Make Money with site, guarante payment

your banner here 468 x 60
your banner here 468 x 60

Kamis, 11 Desember 2008

Hadiah Natal Buat Tuhan

Desember sudah tiba. Gema Natal semakin dekat. Gemerlap lampu
kelap-kelip menghiasi pohon cemara plastik di sudut ruang tamu mungil.
Sayup terdengar tembang Noel mengiringi lampu-lampu kecil terang bagai
lilin di malam hari. Sejuk rasa hati teringat masa kecil di kampung yang
permai.

Sheila baru saja duduk di depan televisi, ketika terdengar dari dalam
kamar Raka, anaknya yang baru berumur tujuh tahun, sedang berdoa. Buat
Shiela apa yang diucapkan bocah yang duduk di kelas satu sekolah dasar
dalam doanya itu bukanlah hal aneh lagi. Tapi tidak bagi orang lain yang
mendengarnya.

Bulan lalu Retha, adiknya yang tinggal di Surabaya, datang berkunjung ke
rumahnya, terheran-heran mendengar Raka berdoa. Ia bahkan sampai
terbahak-bahak hingga matanya berair.
"Namanya juga anak SD. Jadi, doanya juga ala anak SD dong," Shiela
membela.
"Bukan maksudnya ngeledek, tapi saya benar-benar kagum. Anak sekecil
Raka sudah biasa berdoa sendiri."

Shiela mengecilkan suara televisi yang sedang memutar final Indonesian
Idol, dan mencoba menyimak doa Raka.
"Tuhan, kemarin
'kan Raka cerita kalau Raka punya kawan baru di
sekolah.
Namanya Bunga. Itu loh Tuhan, yang rambutnya keriting. Ternyata bapaknya
sopir angkot, Tuhan ..."
Shiela yang sedang minum langsung tersedak, saking kagetnya.
"Oh iya Tuhan, boleh nggak Raka minta Bandung dijadikan ibu kota negara
Indonesia. Soalnya, tadi waktu ulangan sejarah, Raka jawab Bandung yang
jadi ibukota negara Indonesia. Harusnya 'kan Jakarta, tapi Raka lupa
..."
Untuk kedua kalinya Shiela menyemburkan air dari mulutnya. Ia berlari ke
dapur, menumpahkan tawanya.
***

"Mah ... Mamah, bangun Mah, sudah pagi."
Shiela membuka matanya. Didapatinya Raka berdiri di samping tempat
tidurnya dengan seragam sekolah.
"Ya ampun, Sayang. Mama kesiangan, jadi lupa buatin sarapan buat
kamu."
Shiela meraih anaknya, lalu dipeluknya erat.
"Udah Mah, tadi dibuatin Mbak Hani."
"Oya? Emangnya dibuatin sarapan apa sama Mbak Hani?" Shiela
menatap
wajah anaknya lekat.
"Susu cokelat sama sereal."
"O ... ya sudah. Yuk, Mama antar ke sekolah."
"Iya Mah, tapi Raka berdoa dulu ya ..."

Shiela tersenyum, lalu dibimbingnya Raka masuk ke dalam kamarnya, dan
dia sendiri bergegas ke kamar mandi. Langkahnya terhenti ketika
terdengar dari dalam kamar. Anaknya berdoa.

"Tuhan, Raka baru saja bangunin Mamah. Hari ini Mamah kesiangan, jadi
nggak sempat bikin sarapan buat Raka. Besok pagi, Tuhan kalau Mamah Raka
tidak bangun pagi lagi, siram aja dengan air ..."
Sialan! Rutuk Shiela, lalu masuk ke kamar mandi.

"Tuhan, Raka harus ke sekolah dulu ya. Nanti malam Raka cerita lagi.
Tapi, jangan bosan ya Tuhan ? Kalau Tuhan bosan dengar cerita Raka,
nanti Raka cerita ke siapa lagi? Raka 'kan nggak punya adik. Abah Raka
suka pulang malam, jam segini pasti sudah berangkat ke kantor, habis
kantor Abah Raka jauh sih. Kadang-kadang Raka juga sebel sama
Abah,
habis pulangnya suka malam. Tapi nggak papa Tuhan, biar Raka bisa maen
sepuasnya sepulang sekolah. Abah suka nyuruh-nyuruh Raka bobo siang.
Jagain Raka ya Tuhan Yesus, Amin."
***

Suara loncenga bedentang merdu. Alunan lagu Natal kembali bergema.
Sheila baru saja mendapat telepon dari Alex, suaminya yang kini sedang
tugas belajar di luar negeri. Hatinya berbunga-bunga mendapat berita
bahwa Alex akan pulang dan merayakan Natal bersama mereka.

"Mah, kapan Abah pulang ?"
Dengan tersenyum disampaikannya kabar baik bahwa abahnya akan pulang
merayakan Natal bersama.
"Hore, Abah pulan!" Sambut Raka sambil melompat.
"Kangen ya sama Abah?" Goda Shiela.
"Nggak. Raka pegen mainannya aj."
Tapi dari sorot matanya, Shiela tahu kalau Raka kangen berat dengan
abahnya. Tapi Raka tidak mengaku, karena sering diledekin cengeng sama
abahnya.
"Kok belum bobo, Nak?"
"Sebentar lagi, Raka lagi
menggambar."
"Oya, gambar apa? Boleh nggak Mamah liat?"
Raka berlari ke kamarnya, kemudian muncul sambil membawa kertas di
tanggannya.
"Gambar apa sih?" Tanya Shiela ketika anaknya sudah duduk di
sebelahnya.
Lalu bertanya lagi, "Ini gambar siapa?"
"Mamah."
"Ini?"
"Abah."
"Ini?" Tanya Shiela cepat.
"Oh ... ini Tuhan."
Shiela mengganguk sok mengerti.
"Ya udah, sana bobo. Nanti terlambat ke sekolah besok pagi mamah janji
bangunnya lebih pagi, oke?"
"Oke Mah ..."
***

"Tuhan, terima kasih ya atas hari ini. Pasti Tuhan lagi sayang sama Raka
soalnya tumben hari ini Raka nggak dimarahin sama Bu Guru. Tuhan, tadi
siang Rudi, teman Raka, berkelahi sama Roni. Kasihan deh Tuhan,
hidungnya sampai berdarah. Lalu Roni dihukum sama Bu Guru, disuruh nyuci
kamar mandi sendirian. Oya Tuha, lindungi Abah Raka. Raka kangen ...
sama Abah. Jelek-jelek gitu 'kan abah Raka ..."
Dari balik pintu Shiela
mendengarkan dengan seksama. Biasanya ajang
seperti ini digunakan Shiela untuk mengetahui keadaan Raka di sekolah.
Hatinya sempat trenyuh ketika abahnya disebut-sebut. Raka memang bukan
tipe anak manja. Ini mungkin hasil didikan abahnya yang memang tidak mau
terlalu memanjakan anak, walau dia tahu persis Alex sangat menyanyangi
anaknya.
***
Dua hari lagi Natal tiba. Rasanya semakin sibuk saja. Bikin kue.
menyiapkan kado untuk anak-anak yatim piatu, mengecat rumah. Untungnya
Alex datang. Jadi lumayan, bisa berbagi tugas. Semangat Natal
bebar-benar menyedot perhatian Shiela dan suaminya. Maklum, biasanya
momentum seperti ini digunakan oleh orangtua, kerabat, saudara dan
handai taulan datang berkunjung. Jangan sampai ketika mereka datang,
tidak ada persiapan. Biasanya hal ini akan menjadi bahan omongan.
Pengamalan ini dapat didapat Shiela Natal tahun lalu. Saat itu seorang
tante mereka tidak ada persiapan sama
sekali menyambut Natal, sehingga
ketika keluarga berdatangan, kue-kue yang bisanya disuguhkan bagi para
tamu tidak nampak di atas meja.. Kalau sudah begini, biasanya beritanya
cepat menyebar. Walaupun bagi Shiela hal tersebut bukan sesuatu yang
harus dipersoalkan. Yang penting, baginya, semangat Natal yang membawa
berkat bagi semua insan di muka bumi ini.
Saking sibuknya, sampai-sampai mereka tidak memperhatikan Raka yang
sibuk sendiri di dalam kamar tidurnya. Dia tampak gelisah seperti sedang
menunggu seseorang. Hampir tiap lima menit dia melihat jam dinding
Mickey Mouse di dalam kamarnya. Tapi akhirnya dia berlutu di sisi tempat
tidur, lalu mengambil posisi berdoa.
"Tuhan, besok 'kan Natal. Kira-kira Tuhan ingin kado Natal seperti
apa?
Tapi, jangan terlalu mahal ya, uang Raka 'kan sedikit, Oya Tuhan, hari
ini Raka ada janji mau cari hadiah di pasar sama Rudi, teman Raka, tapi
sepertinya dia nggak datang.
Sekarang sudah hampir siang, mending Raka
berangkat sekarang aja ya Tuhan. Tapi, maafin Raka, takut nanti dikira
ingkar janji. Janji 'kan utang, ya Tuhan? Nanti Raka berdosa. Maafin
Raka, ya Tuhan. Amin."
Lantunan lagu Natal mengalun lembut, mengisi ruang di rumah mungil nan
indah itu. Lampu kerlap-kerlip bagai bintang di malam pekat. Ketika itu
waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Kegelisahan tampak di raut wajah
Shiela dan Alex. Sebentar-sebentar mereka memandang jam dinding di
ruangan itu. SUdah beberapa nomor telepon mereka hubungi, tapi tidak
seorang pun yang tahu keberadaan Raka.
"Tenanglah, Ma, tidak akan terjadi apa-apa Anak itu tahu apa yang harus
dilakukan," Alex berusaha menghibur istrinya, tepatnya menghibur dirinya
sendiri.
Seharusnya mereka tidak terlalu gelisah, karena Raka sudah biasa pergi
sendirian tanpa ditemani pengasuhnya. Apa lagi Hani, sang pengasuh,
sedang pulang kampung untul
bernatalan dengan keluarganya. Tapi, kalau
pun pergi biasanya jam segini sudah ada di rumah.
"Iya. Saya sih percaya aja Bang, tapi nggak biasanya jam segini belum
pulang."
"Nah, aku ingat sekarang. Tadi malam kamu dengar dia berdoa tidak?"
Alex
seakan tahu jawabannya.
Shiela mengerutkan keningnya.
"Yah, aku ingat. Dia 'kan harusnya pergi dengan Rudi mencari hadiah
Natal buat acara kado silang di sekolah minggu nanti."
Dengan sigap, Shiela berlari menuju meja telepon.
"Halo, selamat malam, bisa bicara dengan Rudi?" Suara Shiela
terdengar
serak.
"Ini, siapa?" terdengar suara di seberang.
"Ini Rudi ya? Ini mamanya Raka. Raka Ada di situ ?" Shiela bertanya
tak
sabar.
"Raka ? Memangnya Raka mau ke sini Tante?"
"Kan, katanya Rudi mau pergi sama Raka nyari hadiah Natal. Tapi, sampai
sekarang, kok Raka belum pulang ya?"
"Nggak kok Tante. Kami nggak jadi pergi, soalnya Rudi lagi sakit perut,
tapi
sekarang sudah sembuh."
Shiela dengan lemas meletakkan gagang telepon, sambil menatap sedih
wajah Alex yang dengan tegang berdiri di sebelahnya. Alex hanya
menunduk, lalu perlahan berkata, "Kalau sejam lagi masih belum pulang,
kita laporkan polisi saja."
Shiela akhirnya tak dapat menahan rasa sedihnya. Tangisnya pun pecah.
ALex memeluk erat tubuh mungil Shiela, mencoba memberikan kekuatan dan
ketabahan. Shiela tidak dapat membayangkan sesuatu yang buruk menimpa
anaknya. Seperti yang didengarnya dari berita televisi, akhir-akhir ini
banyak aksi penculikan anak. Biasanya mereka meminta uang tebusan tidak
sedikit, tapi kalau hanya itu yang terjadi, Shiela tidak akan
mempermasalahkannya . Berapapun yang diminta penculik pasti akan
diusahakan asalkan anaknya kembali. Tapi, kalau ceritanya lain, misalnya
pembunuhan dan pemerkosaan terhadap anak dibawah umur, yang tidak hanya
menimpa anak perempuan, ih... membayangkannya saja Shiela tidak sanggup.
"Bang, bagaimana ini ...? Shiela menatap suaminya.
Tanpa berkata apa pun, Alex langsung meraih telepon yang ada di hadapannya.
"Halo, selamat malam. Ini kantor polisi?"
"Siap! Betul Pak, ada yang bisa kami bantu?"
"Begini Pak Polisi, anak saya berusia sekitar tujuh tahun, pergi dari
rumah tadi pagi. Tapi hingga saat ini belum kembali, Pak. Mungkin ada
informasi tentang anak tersesat yang mungkin anak kami?"
"Hmm, sabar Pak. Bisa kami tahu ciri-ciri anak itu?"
Alex melirik ke arah Shiela sebentar, kemudian memberikan gambaran fisik
Raka secara detail, mulai dari rambut, tinggi badan dan warna kulit.
"Begini, Paka, Baru satu jam yang lalu ..."
"Ya Pak. Bagaimana Pak?" Alex bersemangat.
"E ee... kami mendapat laporan ..."
"Ya Pak, laporan apa Pak?" Alex merapatkan gagang telepon ketlingany.
Dan di sampingnya Shiela berdiri merapatkan telinga.
"Telah terjadi
kecelakaan yang menimpa seorang pejalan kaki. Pejalan
kaki tanpa identitas itu memiliki ciri yang mirip dengan anak yang bapak
gambarkan."
"Di mana anak itu sekarang, Pak?" Alex sekarang benar-benar tidak
sabar
lagi. Suaranya meninggi, "Di rumah sakit mana?"
Alex segera, menyuruh istrinya bersiap-siap menuju rumah sakit yang
dimaksud. Tanpa banyak membuang waktu, mereka segera berangkat.
Sepanjang perjalanan tak henti-henti Shiela berdoa, semoga anak yang
dimaksud polisi itu bukan Raka.
***
Banyak sekali orang berkerumunan di depan ruang ICU. Nampak beberapa
polisi berpakaian dinas berdiri di situ.
"Maaf, Bapak dan Ibu ini siapa?" Tanya petugas, ketika mereka hendak
menerobos kerumunan yang ingin melihat apa yang terjadi.
"Kami adalah orang tua yang kehilangan anak. Kami ingin tahun apakah
anak yang ada di dalam situ .." Alex berkata sambil matanya menerobos ke
dalam ICU.
"Tunggu sebentar Pak ..."
Lalu petugas tadi berbicara melalui alat
komunikasi ditangannya.
"Baik, Pak silakan masuk. Nanti ada petugas kami yang akan menemani
Bapak dan Ibu di dalam sana."
Tubuh Shiela langsung terkulai lemas ketika melihat sosok kecil di atas
pembaringan di dalam ruangan itu. Darah berceceran di mana-mana. Tampak
seorang dokter melepaskan kabel-kabel peralatan medis dan selang infus
yang tadinya menempel di tubuh Raka.
"Maaf, kami sudah berusaha menyelamatkaannya sejak satu jam yang lalu,
tapi pendarahan yang begitu hebat menyebabkan kematiannya, " kata dokter
tersebut begitu tahu bahwa Shiela dan Alex adalah orang tua anak malang
tersebut.
Shiela langsung tersungkur di depan tubuh Raka. Isak tangisnya
memilukan. Alex pun tak dapat menahan air mata. Mereka berdua memeluk
tubuh mungil yang mulai dingin. Semua yang ada disana tertunduk haru.
Bahkan seorang Ibu, yang tadinya mengira anaknya yang tertimpa musibah,
tak
kuasa menahan tangis, seakan bisa merasakan kesedihan Shiela dan
Alex. Dokter tadi perlahan menarik tubuh Alex dan menepuk-nepuk bahunya,
memberikan rasa simpati.\
"Maaf Ibu, maaf Bapak," seorang suster yang mengurus jenazah
tiba-tiba
berkata, "Saya menemukan ini dalam genggaman anak Andak."
Ia menyerahkan secarik kertas bernoda darah..
Sambil menyapu air matanya, Shiela meraih kertas tersebut, lalu dibuka
perlahan dan dibacanya. Setelah itu isa tangisnya meledak. Ia memeluk
Alex. Sambil terisak, ia berkata, "Dia tahu Tuhan sangat
mencintainya. "
Perlahan, Alex pun mengambil kertas tersebut dari genggaman istrinya dan
membacanya.
"Tuhan Yesus yang baik, maafkan Raka. Raka sudah berkeliling mencari
hadiah yang terbaik buat Tuhan, namun Raka tidak menemukannya. Tapi,
bila Tuhan suka sama Raka, ambilah Raka sebagai hadiah Natal buat Tuhan.
Selamat Hari Natal."

Kiriman : Arnita Hutapea

- God Bless You -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar