Jawaban.com -
View: 258 times
Sekian tahun yang lalu, Tuhan mengajakku berkeliling ke sebuah taman. Tuhanku menempatkanku di sana untuk lebih mengenal karya cipta-Nya. Di antara sekian banyak karya cipta Tuhan, aku tertarik pada sebuah rumput hijau. Setiap hari aku menatapnya dan mengaguminya, sampai suatu hari kutemukan diriku tak lagi bisa melihatnya oleh karena semak berlukar yang tumbuh di sekelilingku. Betapa menyesalnya diriku kemudian, aku pun mencoba berbagai cara untuk dapat melihat sang rumput. Tak jarang aku merasa begitu sakit saat diriku tertusuk tajamnya duri dari semak berlukar itu. Namun aku tak peduli, aku tetap mencarinya.
Suatu hari seorang temanku berkata, “Kau bodoh.. untuk apa lagi kau mencarinya? Sekian lama kau mencari sang rumput, tentu sekarang ia telah menguning dan menjadi layu. Masih banyak rumput hijau lain yang bisa kau temui di taman ini!”
Entah mengapa sang rumput tak pernah bisa terhapus dari benakku. Aku tahu kalau aku takkan pernah bisa menemukan rumput yang persis sama. Suatu hari di tengah usaha dan keputus-asaanku, aku melihat sebuah rumput yang menggetarkan hatiku. Aku tak mengenalinya, namun entah mengapa hatiku merasa begitu dekat dengannya. Kucoba bertanya pada sang rumput, adakah ia pernah hadir mewarnai hidupku di masa lalu? Inilah jawaban yang kuterima, “Aku memang rumput yang selalu kau tatap, aku tak pernah melupakan dirimu. Dulu Tuhan mengirimkan dirimu padaku, agar kita bisa saling menjaga dan saling berbagi. Di antara segala kekuranganku, aku berusaha mengikuti perintah Tuhan. Aku berusaha menyegarkan pagimu dengan berbagi tetesan embunku saat kau begitu layu. Aku berusaha berbagi sinar mentari denganmu, agar kau tumbuh sehat. Aku selalu berharap agar kau mau membuka kelopak indahmu, agar menjadi berkat bagi sekelilingmu. Namun tidak sedikitpun reaksi yang kuterima darimu. Aku hanya rumput bisaa dengan segala keterbatasanku. Aku merasa jenuh dengan sikapmu.”
Kutermenung, kusadari diriku tengah menyesal. Sekian lama aku menatap rumput hijau, namun memang tak pernah ada sebuah usahaku untuk berbuat sesuatu baginya. Di antara sekian besar ketulusanmu, aku tak pernah berani membuka diriku. Bagaimana mungkin aku sempat berpikir kalau diri sang rumput telah menguning? Lihat saja dirinya kini, sampai akupun tak mengenalinya, hingga aku harus melihat dan mencarinya dengan hatiku. Ia telah berubah, tak menguning ataupun berwarna hijau muda, tetapi ia menjadi rumput yang hijau segar, yang siap mewarnai taman indah Tuhan.
Terkadang sebagai manusia, kita cenderung menghargai apa yang kita miliki dengan cara membeli. Seringkali kita lupa dengan hadiah – hadiah gratis yang Tuhan berikan. Tuhan memberi kita teman–teman, saudara dan kehidupan agar kita menjadi berkat bagi sesama. Namun kita lebih sering tidak menjaganya dengan baik, dan baru menyesal saat semua telah berlalu dari kehidupan, menyadari semua tak dapat terbeli dengan kekayaan.
Tulisan ini kubuat sebagai tanda penyesalan diriku karena aku telah menyia–nyiakan hadiah Tuhan yang begitu mengagumkan. Saat ini aku hanya ingin menjadi bunga yang siap membuka kelopakku untuk menghiasi taman itu. Aku yakin dan percaya kalau Tuhan tengah menggarap ladang hatiku agar suatu hari nanti aku bisa memberi hasil tuaian yang terbaik.
Aku memang tak seindah mawar;
Aku memang tak seharum melati;
Namun aku ada karena aku cukup berharga di mata Penciptaku.
Kamis, 27 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar