Make Money with site, guarante payment

your banner here 468 x 60
your banner here 468 x 60

Rabu, 26 Agustus 2009

AJARAN TENTANG TUHAN ALLAH

Apakah mungkin manusia dari dirinya sendiri mengenal Allah, apakah ada jalan yang berpangkal dari manusia menuju ke pengetahuan tentang Allah?


Plato menjawab pertanyaan ini secara positif: YA, ADA. Oleh karena pengaruh Plato besar sekali di dalam pemikiran theologia Kristen dan Islam, maka akan dibicarakan pandangannya secara singkat.


Kira-kira empat abad sebelum Masehi, Plato memprotes ajaran agama yang berlaku di Yunani. Cerita-cerita tentang para dewata yang memiliki sifat-sifat seperti manusia, misalnya bahwa mereka saling tipu-menipu, saling bunuh-membunuh, berebutan wanita, dan sebagainya dipandangnya sebagai merusak moral para pemuda. Oleh karena itu dengan mengadakan sensor terhadap para penyair, harus diusahakan adanya kesatuan di dalam kelakuan para dewata, yaitu bahwa para dewata harus hanya melakukan hal-hal yang benar dan adil saja. Mereka harus menjadi sumber segala yang baik, yang harus dilakukan oleh manusia. Pokoknya, para dewata jangan dijadikan sumber kejahatan. Plato sendiri tidak menuntut adanya satu ilah atau tuhan, asal semuanya memiliki satu tabiat (nature) yaitu tabiat ilahi (divine nature) . Segala perbuatan para dewata tidak boleh bertentangan dengan tabiat ilahiitu. Tuhan jangan dipandang sebagai manusia, Tuhan harus dipandang sebagai keberadaan sejati (the real being) , zat yang bersifat akali atau rohani serta yang tidak berubah (the true, intelligible and immutable being).


Yang penting ialah, bahwa cara berada Tuhan harus diubah dari cara berada yang bersifat jasmaniah (material) menjadi cara berada yang akali atau rohani (immaterial).


Zat yang ilahi, yang keadaannya akali atau rohani tadi, berada di belakang dan di atas kosmos atau dunia yang tampak ini, yaitu di dunia idea atau cita. Dengan demikian zat yang ilahi ini berada secara transenden, sebab tabiatnya adalah suatu kenyataan yang sukar ditembus oleh akal manusia. Kosmos yang tampak ini lebih menyelubungi hakekat yang ilahi daripada menyingkapkannya. Terlebih-lebih jikalau orang ragu-ragu akan kecakapan akalnya, maka yang ilahi ini akan makin menjadi tidak dapat dikenal.


Untunglah bahwa jiwa manusia keadaannya sama seperti yang ilahi tadi, yaitu bersifat akali, karena jiwa manusia juga berasal dari dunia idea atau cita. Dengan demikian, sekalipun zat ilahi tadi transenden, dalam arti tidak dapat ditembus oleh akal manusia, namun manusia dapat juga mengenalnya, yaitu dengan jalan seolah-olah mengupas Tuhan keluar dari selubungnya, dengan perantaraan akal manusia.


Jadi Tuhan bukan menyatakan diri atau memperkenalkan diri, bukan keluar membuka selubung-Nya, melainkan Ia yang terselubung oleh kosmos tadi, dikupas manusia, dikeluarkan dari selubung-Nya.


Jikalau pandangan Plato ini kita tinjau secara mendalam, kita mendapat kesan, bahwa sebenarnya akal manusialah yang menentukan bagaimana seharusnya Tuhan. Selanjutnya, pengertian tentang Tuhan juga menjadi kabur. Dengan ajarannya tentang tabiat ilahi itu sebenarnya ilah atau tuhan menjadi pengertian yang predikatif, artinya: pengertian yang menunjuk kepada nama sifat. Tuhan menjadi ketuhanan atau yang ilahi. Dengan sendirinya tuhan seperti ini menjadi sasaran pemikiran manusia. Tuhan dianggap penting, bukan sebagai subyek yang berbuat, melainkan sebagai obyek atau sasaran yang menyinarkan sinar. Jika tuhan ini dipandang sebagai sebab segala sesuatu, hal itu bukan karena ia berbuat dengan tindakan-tindakannya, melainkan karena ia seolah-olah menarik segala sesuatu, tanpa dapat ditentang, seperti halnya dengan sebuah magnit menarik kikiran besi.


Dari uraian di atas kiranya juga jelas, bahwa yang menjadi dalil Plato ialah yang ilahi itulah Tuhan, bukan Tuhan adalah yang ilahi. Bagi Plato yang penting ialah yang ilahi dahulu, seolah-olah ada sesuatu yang ilahi, lalu yang ilahi ini dianggap Tuhan.


Pengaruh pandangan Plato ini ternyata besar sekali. Pada zaman di sekitar tarikh Masehi, telah menjadi pendapat umum di daerah sekitar Laut Tengah, bahwa yang disebut Tuhan harus memiliki tabiat ilahi, dan bahwa tabiat ilahi ini harus bersifat rohani dan akali (spiritualist dan intellectualist), dalam arti sebagai lawan dari segala yang bersifat bendawi atau jasmani (materialist). Segala sesuatu yang tidak memenuhi tabiat ilahi ini harus ditolak sebagai Tuhan. Manusia, sepanjang ia lebih daripada yang jasmani, mendapat bagian dari tabiat yang ilahi itu.Mengherankan sekali bahwa pandangan yang demikian itu, yaitu bahwa akal manusia sendirilah yang menentukan bagaimana seharusnya yang ilahi, hingga berabad-abad mempengaruhi, bahkan menguasai pemikiran tentang Allah, bukan hanya di antara para ahli pikir Kristen, tetapi juga para ahli pikir Islam.Gereja Roma Katolik umpamanya mengajarkan, bahwa ada jalan dari akal manusia kepada Allah. Dengan mempelajari alam semesta, manusia dapat mengenal Allah. Tetapi pengetahuan melalui akal ini belum sempurna, oleh karena itu di samping pengetahuan tentang Allah dengan perantaraan akal itu manusia masih memerlukan pengetahuan tentang Allah yang berdasarkan penyataan atau wahyu. Ajaran Roma Katolik yang mengenal pengetahuan tentang Allah yang dengan perantaraan akal itu disebut thelogia naturalis, theologia kodrati atau alami.Bahwa manusia dengan akalnya dapat mengenal Allah, juga diajarkan oleh para ulama Islam. Menurut Dr. H.M. Rasjidi dalam Filsafat Agama, hingga sekarang yang berlaku dalam dunia Islam ialah, bahwa Tuhan telah memberi akal kepada manusia. Dengan akal itu manusia dapat memikirkan hal-hal yang melingkunginya dengan alam kehidupannya dan akhirnya ia dapat mengetahui dengan akalnya tentang adanya Tuhan dan sifat-sifat Tuhan, kemudian Tuhan menambah suatu hal baru, yaitu menurunkan wahyu kepada beberapa orang yang diangkatnya sebagai utusan-Nya, di antaranya kepada nabi Musa, nabi Isa dan yang terakhir kepada nabi Muhammad.Pemikiran yang mendewa-dewakan akal sebenarnya pemikiran yang dipengaruhi sekali oleh Plato, seperti yang di sepanjang abad-abad hingga sekarang menguasai dunia Barat.Semua agama didasarkan atas keyakinan bahwa Allah atau yang dipertuhan memperkenalkan diri kepada manusia, sehingga manusia kenal Tuhannya, sekalipun pengenalan itu tidak sempurna. Karena pengenalan itulah, maka manusia dapat menyembah Tuhannya. Apakah mungkin manusia dari dirinya sendiri mengenal Tuhan, apakah ada jalan yang berpangkal dari manusia menuju ke pengetahuan tentang Tuhan atau yang dipertuhan?Sekalipun demikian, tiada kesamaan tentang soal bagaimana Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Pada umumnya agama-agama mengajarkan, bahwa Tuhan memperkenalkan diri-Nya dan kehendak-Nya kepada manusia dengan perantaraan bisikan ilahi, dalam arti Tuhan memperkenalkan diri-Nya dan kehendak-Nya dengan membisikkan kehendak-Nya di dalam hati sanubari manusia, baik orang itu berfungsi sebagai imam atau pendeta, maupun berfungsi sebagai resi, atau nabi atau guru/kyai. Di dalam agama Islam kita mendengar bagaimana pada malam yang terkenal sebagai Lailatul-Qadar, atau malam Kebesaran (17 Ramadhan) Allah dengan perantaraan malaekat Jibril membisikkan perintah-Nya kepada nabi Muhammad SAW di bukit hira. Suara ilahi itu didengar di dalam hatinya, yang kemudian dibukukan di dalam kitab Al~Qur'an.Menurut Alkitab Perjanjian Lama, sebenarnya tidak hanya ada satu atau dua kata saja yang dipakai untuk mengungkapkan perkenalan Allah dengan manusia. Dalam kitab Kejadian 12:1-3 Allah berfirman kepada Abraham supaya ia pergi dari negerinya dan dari sanak saudaranya serta dari rumah bapanya ke negeri yang akan ditunjukkan Allah kepadanya dengan janji, bahwa Allah akan menjadikan Abraham menjadi bangsa yang besar, dan menjadikan dia berkat bagi para bangsa. Di sini tidak diperoleh kesan bahwa firman itu diberikan dengan bisikan ilahi di dalam hati Abraham, sebab cara pertemuan Allah dengan Abraham ini berkali-kali diulangi sebagai pertemuan pribadi dengan pribadi, sebagai pertemuan antara aku dan engkau.* Kejadian 12:1-3, 12:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."Dijumpai pula kisah pertemuan Allah dengan Yakub, dengan Musa, dan dengan tokoh-tokoh yang lain di Perjanjian Lama, juga pertemuan Allah dengan Israel sebagai bangsa.Di dalam Perjanjian Lama disebutkan juga bahwa Allah memperkenalkan diri-Nya dengan melalui karya-karya-Nya, baik yang dilakukan dalam bentuk penampakan-penampakan (semak duri yang bernyala, tugu awan, malaekat Tuhan, dan sebagainya) maupun yang dilakukan dalam bentuk perbuatan-perbuatan besar yang menakjubkan (menyeberangi Laut Teberau, manna, manna, air keluar dari batu karang, dan sebagainya). Semua itu adalah sarana Allah guna memperkenalkan diri atau menyatakan diri-Nya kepada manusia.Jikalau segala perkenalan Allah itu diselidiki secara mendalam, tampaknya segala kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan kepada perkenalan Allah kepada manusia itu hampir semuanya dikaitkan dengan penyataan tentang janji Allah. Allah memperkenalkan diri-Nya di dalam janji-janji-Nya dan di dalam sejarah janji-janji itu.Di dalam Alkitab Perjanjian Baru, banyak kata-kata yang dipakai untuk mengungkapkan perkenalan atau penyataan Allah itu. Dari sekian banyak kata-kata itu mungkin kata αποκαλυπτω - apokaluptô ("reveal, pengungkapan") dan φανεροω - phaneroô ("terbuka") merupakan kata yang mempunyai arti yang agak khas, asal pengertian perkenalan atau penyataan Allah tadi tidak hanya dijabarkan dari kata-kata ini saja.Kata αποκαλυπτω - apokaluptô berarti mengambil tutup atau mengambil selubung, sehingga tampaklah apa yang tertutup atau diselubungi. Kata phaneroô berarti terbuka, karena disingkapkan selubungnya. Perbedaan antara kedua kata itu ialah demikian, bahwa kata yang pertama menunjuk kepada tindakan mengambil tutup, sedangkan kata yang kedua menunjuk kepada hasil penyingkapan selubung tadi.Berdasarkan makna kata itu, yang diungkapkan dengan istilah penyataan atau perkenalan adalah gagasan, bahwa sesuatu yang semula tertutup atau tidak dapat diketahui, karena diselubungi, menjadi dapat diketahui, karena selubungnya telah disingkapkan. Kata-kata ini bukan hanya dikenakan kepada Allah saja, melainkan juga dipergunakan hal-hal lain, misalnya:* 1 Korintus 3:13LAI TB, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu.KJV, Every man's work shall be made manifest: for the day shall declare it, because it shall be revealed by fire; and the fire shall try every man's work of what sort it is.TR, εκαστου το εργον φανερον γενησεται η γαρ ημερα δηλωσει οτι εν πυρι αποκαλυπτεται και εκαστου το εργον οποιον εστιν το πυρ δοκιμασειTranslit, hekastou to ergon phaneron genêsetai ho gar hêmera delôsei hoti en puri apokaluptetai [to uncover, to make known] kai hekastou to ergon hopoion estin to pur dokimasei.Di sini dinyatakan bahwa sekali kelak pekerjaan masing-masing orang anak nampak yaitu bahwa hakekat pekerjaan orang yang sekarang masih belum dapat diketahui itu, kelak akan terbuka.Jika kata-kata itu dikenakan kepada Allah, maka maksudnya ialah bahwa Allah yang semula tidak dikenal oleh manusia, sekarang dapat dikenal, sebab telah terbuka selubung-Nya. hanya saja, pembukaan selubung itu, menurut Alkitab, bukan perbuatan manusia, melainkan karya Allah sendiri.Sekalipun kata "αποκαλυπσις - apokalupsis" (kata nama benda dari kata kerja αποκαλυπτω - apokaluptô) di dalam Alkitab diterjemahkan dengan wahyu (yaitu kitab yang terakhir dari Alkitab), namun di sini dipilih terjemahan penyataan . hal ini disebabkan karena kata wahyu mempunyai arti yang berlainan dengan kata "αποκαλυπσις - apokalupsis" tadi.Dalam pengertian penyataan yang diajarkan Alkitab terkandung gagasan, bahwa Allah "keluar dari tempat persembunyian-Nya", memperkenalkan diri-Nya kepada umat manusia. Ia menyingkapkan selubung yang menyelubungi-Nya, dengan "tampil ke depan", "berbuat di dalam sejarah" dan menyatakan kehendak-Nya di dalam hidup manusia. Ilustrasi sederhana, jika saya pindah ke sebuah desa atau kampung yang orang-orangnya belum kenal dengan saya, maka orang-orang desa atau kampung tadi akan mengenal saya dari kata-kata dan perbuatan saya. Dari situ mereka akan tahu, apakah saya ini orang baik hati atau tidak, dan seterusnya.Jikalau kita menyelidiki pemikiran Timur, sebenarnya akal justru dianggap sebagai merintangi pengetahuan tentang Allah atau tentang Yang dipertuhan.Kira-kira delapan abad sebelum Masehi di India ada suatu revolusi pemikiran di bidang keagamaan. Semula hidup keagamaan dikuasai oleh para imam atau para Brahmana. Yang dianggap terpenting di dalam hidup keagamaan adalah korban, yang harus dipersembahkan sesuai dengan upacara yang diperlukan. Padahal upacara-upacara korban tadi demikian berbelit-belit, sehingga hanya para Brahmana-lah yang dapat mempersembahkan korban dengan berhasil. Dengan demikian seluruh kehidupan manusia dikuasai oleh para Brahmana.Dari golongan para ksatriya timbullah reaksi yang sedemikian hebat, sehingga dapat memberi jurusan yang baru di dalam seluruh kehidupan keagamaan pada waktu itu. Itulah tahap sejarah keagamaan Hindu yang menimbulkan kitab-kitab Upanisad. Sejak zaman itu timbullah gagasan, yang hingga kini tersebar di seluruh dunia Timur, bahwa Tuhan adalah suatu daya-hidup yang maha besar, yang berada di dalam segala makhluk. Daya yang tersembunyi di dalam dunia ini, sebagai jiwa yang terpendam di dalam tubuh. Tuhan, yaitu Brahman, adalah satu-satunya zat yang nyata, sedang di luar Tuhan tidak ada yang nyata.Akal manusia tidak dapat menembus Tuhan yang mutlak, yang transenden itu. Akal hanya menunjuk kepada adanya perbedaan-perbedaan dan kepada adanya banyak benda. Oleh karena itu akal manusia menyesatkan. Dengan akalnya manusia tidak mungkin mengenal Tuhannya. Jika kita ingin mengenal Tuhan, kita harus menempuh jalan mistik atau kebatinan, artinya, kita harus menyelam ke dalam hati sanubari kita sendiri, di mana kita, dengan meninggalkan akal dan perasaan, akan dapat bersekutu dengan Tuhan. Di dalam hati sanubari yang terdalam itu tiada lagi perbedaan, tiada perkara-perkara yang banyak dan beraneka ragam, tiada akal lagi. Di sinilah ketenangan, ketenteraman, kesatuan antara Tuhan dengan hamba-Nya. Itulah Tuhan.Jika pandangan tentang Tuhan yang demikian ini kita selidiki secara seksama, akan dapat diketahui, bahwa Tuhan di sini dipandang sebagai Yang Mutlak dalam arti filsafati, artinya: Tuhan adalah suatu idea yang tertinggi, yang abstrak, yang bebas dari segala hubungan dan sifat. Tuhan yang demikian sudah tentu sukar untuk dianggap sebagai "Yang menyatakan diri" atau "Yang memperkenalkan diri" kepada manusia. Manusialah yang di sini tampak giat berusaha untuk mengenal Tuhannya. Oleh karena hal yang demikian tidak mungkin dilakukan dengan perantaraan akalnya, maka dilakukannya melalui jalan mistik. Sukar sekali di sini untuk menggambarkan Tuhan sebagai suatu pribadi yang benar-benar berkehendak, dan sebagainya.Alkitab dengan tegas menyatakan, bahwa tiada jalan dari pihak manusia kepada Tuhan Allah. Dari Alkitab kita dapat mengetahui bahwa mula-mula bukan Israel yang mencari Tuhan Allah, melainkan sebaliknya, Tuhan Allahlah yang mencari Israel dan yang memperkenalkan atau menyatakan diri-Nya kepada Israel. Dengan karya-karya-Nya yang besar di dalam sejarah umat Israel, Tuhan Allah telah menyatakan diri-Nya atau memperkenalkan diri-Nya kepada umat-Nya. Semuanya itu demi kelepasan dan kepentingan Israel. Bahwa Israel mengenal Tuhan Allahnya, hal itu bukan karena Israel mempergunakan akalnya untuk menjelajahi alam semesta, juga bukan karena Israel menyelami lubuk hatinya,melainkan karena Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya atau menyatakan diri-Nya kepada Israel.Di dalam agama mana saja, sering disaksikan, baik secara teoritis maupun secara praktis, bagaimana manusia mencoba memperalat Tuhannya bagi kemuliaan, kebahagiaan dan kesenangannya sendiri.Di dalam agama Weda kuno umpamanya, dapat disaksikan bagaimana manusia menyanjung-nyanjung para dewata dengan korban-korban serta doanya, dengan maksud agar para dewata itu senang dan oleh karenanya berkenan memberkati manusia. Secara praktis banyak juga orang beragama yang bersikap demikian terhadap Tuhannya. Mereka harus hidup dengan baik, harus beramal dan sebagainya supaya Tuhan berkenan kepada mereka, lalu memberkati mereka, dan terlebih-lebih memberikan hadiah surga. Segala sesuatu dengan demikian diukur dengan ukuran manusia. Jika Tuhan tidak cocok dengan ukuran manusia, haruslah Ia ditolak.Alkitab menunjukkan dengan jelas, bahwa Tuhan Allah bukanlah alat guna mencukupi kebutuhan-kebutuhan manusia, bukan sarana untuk memberikan kesenangan dan kepuasan manusia. Tuhan Allah jauh lebih tinggi daripada manusia. Tuhan Allahlah yang memanggil manusia supaya mengabdi kepada-Nya, supaya mentaati perintah-perintah-Nya. Jadi bukan sebaliknya, bukan Tuhan Allah yang harus mengabdi kepada manusia serta memenuhi segala keinginan manusia.Oleh karena itu tujuan terakhir dari penyataan Tuhan Allah bukanlah kebahagiaan manusia, melainkan kemuliaan dan kehormatan Tuhan Allah sendiri.* Roma 11:36LAI TB, Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!KJV, For of him, and through him, and to him, are all things: to whom be glory for ever. Amen.TR, οτι εξ αυτου και δι αυτου και εις αυτον τα παντα αυτω η δοξα εις τους αιωνας αμηνTranslit, hoti ex autou kai di autou kai eis auton ta panta autô hê doxa eis tous aiônas amênBarangsiapa mencari Tuhan Allah, dialah yang berbahagia dan mendapatkan hidup sejati di dalam mencari dan melayani Tuhan Allah.Dengan alat-alat apakah Allah telah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada manusia? Berdasarkan keyakinan Kristen, Alkitab adalah kesaksian mengenai pengalaman para orang yang pernah bertemu atau bergaul dengan Tuhan Allah, maka akan diselidiki kesaksian-kesaksian itu untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan di atas.Kita berpangkal pada Keluaran 3:13-15 di mana disebutkan, bahwa Tuhan Allah memanggil Musa supaya mengeluarkan umat Israel dari tanah perhambaan di Mesir. Pada kesempatan ini Musa bertanya kepada Tuhan Allah, bagaimana ia harus menjawab, seandainya Israel akan menanyakan siapa yang mengutusnya. Hal ini disebabkan karena mungkin Israel sudah tidak dapat membeda-bedakan siapa Tuhan Allahnya dan siapa para dewa orang Mesir.* Keluaran 3:14LAI TB, Firman Allah kepada Musa: 'AKU ADALAH AKU' Lagi firman-Nya: 'Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.KJV, And God said unto Moses, I AM THAT I AM: and he said, Thus shalt thou say unto the children of Israel, I AM hath sent me unto you.Hebrew, וַיֹּאמֶר אֱלֹהִים אֶל־מֹשֶׁה אֶהְיֶה אֲשֶׁר אֶהְיֶה וַיֹּאמֶר כֹּה תֹאמַר לִבְנֵי יִשְׂרָאֵל אֶהְיֶה שְׁלָחַנִי אֲלֵיכֶם׃Translit interlinear, VAYO'MER {dan Dia berfirman} 'ELOHÏM {Allah} 'EL-MOSYEH {kepada Musa} 'EHEYEH {Aku akan ada} 'ASYER {yang} 'EHEYEH {Aku akan ada} VAYO'MER {dan Dia berfirman} KOH {demikian} TO'MAR {engkau harus berkata} LIVENÊY {kepada anak-anak} YISERÂ'ÊL {Israel} 'EHEYEH {Aku akan ada} SYELÂKHANÏ {mengutus aku} 'ALÊYKHEM {ke atas kalian}Tuhan Allah menjawab, bahwa nama-Nya adalah: "AKU ADALAH AKU", yang dalam bahasa aslinya berbunyi: משה אהיה אשר אהיה - 'EHEYEH 'ASYER 'EHEYEH.Kata אהיה - 'EHEYEH, yang berarti Aku akan ada berasal dari kata היה - HÂYÂH , hê'-yõd-hê', yang menurut para ahli mewujudkan rangkuman dari kata-kata: berada, menjadi dan bekerja (to be, to become dan to work) . Yang harus diperhatikan ialah, bahwa di sini nama Tuhan Allah diungkapkan dengan bentuk kata-kerja, kata yang hidup, bukan dengan kata-nama-benda, kata yang mati. Hal ini menunjukkan, bahwa dengan demikian Tuhan Allah bagi Israel bukanlah Tuhan Allah yang tidak bergerak, bukanlah Tuhan Allah yang mati, melainkan Tuhan Allah yang hidup, yang bekerja, yang penuh dengan dinamika.Oleh karena itu maka, menurut beberapa ahli, secara bebas ungkapan ini dapat diterjemahkan dengan, "Aku akan hadir, berbuat", atau "Aku akan hadir dengan berbuat". Pokoknya, kehadiran Tuhan Allah bagi Israel bukan seperti kehadiran barang yang mati (meja, kursi, dan sebagainya), melainkan suatu kehadiran yang di dalam perbuatan-Nya, Israel akan mengenal Tuhan Allah dari perbuatan-perbuatan atau karya-karya Tuhan Allah, yang ditujukan kepada kepentingan Israel.Hal itu memang terbukti di dalam sejarah umat Israel. Di sepanjang sejarah umat ini dapat dilacak bagaimana Tuhan Allah telah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya dengan karya-karya-Nya.Pertama-tama Tuhan Allah memperkenalkan diri kepada Israel dengan menampakkan diri dalam tanda-tanda yang menjadikan Israel tahu bahwa Tuhan Allah hadir. Penampakan ini di dalam bahasa Yunani disebut theophani. Di sini Tuhan Allah menampakkan diri dengan tanda-tanda yang dapat dihayati oleh Israel, sehingga Israel sadar bahwa mereka berhadapan dengan Tuhan Allah sendiri. Umpamanya, Tuhan Allah menampakkan diri-Nya kepada Musa dalam nyala api yang keluar dari semak duri, Tuhan Allah menampakkan diri kepada Israel di dalam tiang awan, dalam awan yang padat yang disertai guruh dan kilat di atas gunung Sinai, di dalam kemuliaan-Nya yang melalui Musa, menampakkan diri kepada Gideon sebagai malaekat Tuhan, dan seterusnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar